[email protected]

(+62) 361 9082983

Pelatihan Pengantar Permakultur untuk Penggerak Komunitas

IDEP memulai rangkaian pelatihan tahun 2020 ini dengan pelatihan Pengantar Permakultur selama 5 hari. Pelatihan yang berlangsung di Pusat Pelatihan IDEP pada 27-31 Januari itu diikuti 12 staf Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) dan anggota komunitas pemuda. Masing-masing mereka telah bekerja cukup lama dalam hal pengembangan masyarakat di daerah masing-masing. Selain Bali, sebagian besar mereka berasal dari Ornop yang bekerja di Sumatera dan Sulawesi. Sementara itu, tim pelatih dan fasilitator pelatihan kali ini berasal dari IDEP dan Kw Kreasi.

 

Partisipan dan tim pelatih IDEP selepas pelatihan (Foto: Edward Angimoy)

 

Hari Pertama

 

Untuk memberikan dampak nyata, pelatih permakultur utama dari IDEP, Sayu Komang, memulai pelatihan dengan mengajak para partisipan untuk pertama-tama mengidentifikasi masalah yang mereka hadapi saat melaksanakan program pengembangan masyarakat, terutama yang terkait dengan isu-isu keberlanjutan. Dengan dasar itu, Sayu, panggilan akrabnya, kemudian mengajak mereka untuk menghubungkannya dengan etika dan prinsip permakultur, desain permakultur berdasarkan pola alam, dan pemetaan lahan berdasarkan zonasi. Semua materi dipelajari melalui kombinasi teori dan praktik.

 

Proses identifikasi dan pemetaan (Foto: Edward Angimoy)

 

Hari Kedua

 

Sayu mengajak para partisipan untuk belajar tentang pentingnya perencanaan dan desain sebelum mulai memanfaatkan lahan. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui pemetaan zona permakultur, mulai dari zona terkecil, yakni rumah tangga, hingga zona terluar seperti hutan lindung. Agar lebih berdampak, mereka diminta untuk menyusun peta sesuai dengan kondisi tempat tinggal atau wilayah kerja mereka.

 

Selepas itu, Sayu juga mengajak mereka untuk lebih banyak "turun kebun", belajar langsung di kebun. Kendati matahari cukup menyengat, mereka tetap bertahan untuk memahami tentang bagaimana memanfaatkan lahan miring dengan teknologi sederhana, sistem penyimpanan dan penyaringan air, sistem pengelolaan limbah rumah tangga, dan rumah yang didesain dengan prinsip permakultur. Sekali lagi, agar lebih berdampak, semua yang dipelajari itu selalu dikaitkan dengan pengalaman mereka sehari-hari.

 

Praktik membuat bedeng di lahan miring (Foto: Edward Angimoy)

 

Hari Ketiga

 

IDEP percaya bahwa pangan yang sehat dimulai dari benih dan tanah yang juga sehat. Karena itu, pelatih senior IDEP, Wayan Suartana, mengajak para partisipan untuk melacak kembali proses awal untuk menghasilkan makanan sehat itu. Di situ, mereka diajak untuk belajar bersama tentang sistem rehabilitasi tanah, tes kesehatan tanah dengan teknologi sederhana, pemulsaan, pengelolaan kompos dari limbah rumah tangga, serta pembenihan dan pembibitan.

 

Istimewanya, semua yang mereka pelajari itu dapat dilakukan secara mandiri dengan menggunakan teknologi sederhana dan bahan-bahan alami ramah lingkungan yang mudah didapatkan di sekitar mereka. Dengan bekal itu, IDEP percaya bahwa mereka dapat membantu para petani yang mereka damping untuk memecahkan masalah.

 

Tes kesuburan tanah dengan teknologi tepat guna yang menggunakan lampu pijar (Foto: Edward Angimoy)

 

Hari Keempat

 

Agar gambaran tentang bagaimana permakultur diterapkan semakin konkret, para partisipan diajak untuk berkunjung ke dan belajar dari Kw Kreasi. Di sana, selain disuguhkan berbagai contoh praktik permakultur yang menerapkan Less External Input and Sustainable Agriculture (LEISA), mereka juga diajak untuk belajar tentang budidaya padi dengan menggunakan System of Rice Intensification (SRI).

 

Tidak hanya itu, selepas dari sana, mereka juga diajak untuk belajar tentang sistem Penanggulangan Hama Terpadu (PHT) yang ramah lingkungan, sistem kebun pekarangan kota dan desa, serta penerapan sistem pengelolaan ternak yang terpadu dengan kebun dan rumah tangga. Agar lebih sesuai dengan konteks lokal masing-masing partisipan, penyajian materi-materi tersebut dilakukan lewat diskusi dan praktik.

 

Praktik pengelolaan tanaman padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) (Foto: Edward Angimoy) 

 

Hari Kelima

 

IDEP selalu berupaya agar setiap partisipan memiliki rencana tindak lanjut (RTL) yang konkret selepas mengikuti pelatihan yang digelarnya. Karena itu, sejak awal hingga akhir, para partisipan difasilitasi agar dapat memiliki RTL. Nantinya, tim IDEP akan memantau implementasinya di tempat atau organisasi asal mereka masing-masing.

 

Para partisipan tampak tekun merampungkan RTL-nya masing-masing (Foto: Edward Angimoy)

 

Tidak hanya itu, di hari terakhir itu juga, tim pelatih IDEP mengajak mereka untuk belajar tentang sistem perikanan yang terintegrasi dengan pertanian dan peternakan, teknologi tepat guna, dan pengolahan produk pascapanen. Dengan bekal selama lima hari pelatihan ini, mereka diharapkan dapat terbantu untuk mewujudkan RTL yang telah mereka susun sesuai konteks lokal mereka. (Ed)

 

 

 
 
 

Berlangganan Buletin IDEP

Berikan bantuan yang akan merubah hidup. 100% mendanai proyek amal.

 

 

IDEP Foundation | Helping People to Help Themselves

IDEP Foundation | Yayasan IDEP Selaras Alam
Membantu Masyarakat Mandiri
Br. Medahan, Desa Kemenuh, Sukawati
Gianyar - Bali
Telp. +62 361 9082983

 

 

 

IDEP di Instagram