[email protected]

(+62) 361 9082983

Paket Bantuan untuk Pengungsi di Pondok Warga

Pada 19-21 April lalu, kami bersama mitra lokal Barakat mendistribusikan paket bantuan bagi 123 keluarga terdampak banjir bandang di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ratusan keluarga itu adalah mereka yang terpaksa tinggal di pengungsian setelah Siklon Seroja yang diikuti banjir bandang menyapu desa mereka awal April lalu.

 

Barakat, mitra IDEP, berkeliling pondok untuk mendistribusikan paket bantuan (Foto Barakat)

 

 

Selama sebulan terakhir, para pengungsi tak punya pilihan selain tinggal di pengungsian yang terletak di area perkebunan jagung milik mereka. Di situ, mereka tinggal secara berkelompok dalam pondok-pondok kayu yang sebelumnya dipakai untuk menyimpan hasil panen dari kebun. Dalam satu pondok yang sempit, ada lebih dari satu keluarga yang tinggal secara berdesakan.

 

 

Situasi salah satu pondok di kebun. Salah satu yang menempatinya adalah seorang tuna netra (Foto: Edward Angomoy)

 

 

Paket bantuan yang kami distribusikan berupa makanan, peralatan masak dan makan, kebutuhan sanitasi, matras, dan air minum. Meski telah memperoleh sejumlah bantuan, namun masih banyak kebutuhan dasar mereka yang belum terpenuhi, terutama air bersih, toilet darurat, dan perlengkapan pengungsian. Selain itu, kebutuhan khusus untuk kelompok rentan dan perempuan juga belum tersedia.

 

 

Paket bantuan untuk lansia (Foto: Barakat)

 

 

Distribusi hari pertama dimulai di dusun Keakodun dan Duliwoho. Ada tiga pondok yang dihuni delapan keluarga. Hari berikutnya, distribusi dilakukan di Padu, Duliwoho, dan Tokoonen untuk 24 pondok yang dihuni 68 keluarga. Sehari setelahnya, distribusi dilakukan untuk 36 keluarga yang menghuni pondok di Duliwoho.

 

 

Salah satu keluarga penerima bantuan (Foto: Barakat)

 

 

Setelah diterpa Siklon Seroja yang diikuti banjir bandang dan tanah longsor awal April lalu, Lembata adalah salah satu wilayah di NTT yang terdampak paling parah. Pemerintah setempat bahkan menetapkan masa tanggap darurat selama hampir sebulan hingga 5 Mei 2021.

 

 

Dari data yang dirilis Posko Utama BPBD Lembata (25/4), banjir bandang itu telah mengakibatkan 46 orang meninggal, 23 orang dinyatakan hilang, 55 orang luka-luka, 1.770 keluarga (sekitar 5.490 orang) mengungsi, 604 unit rumah rusak, 68 unit fasilitas umum rusak berat, dan sejumlah kerugian material lainnya.

 

 

Salah satu jalur yang dilalui banjir bandang menyapu pemukiman warga di Desa Waimatan  (Foto: Edward Angimoy)

 

 

Meskipun masa pencarian dan evakuasi korban telah dihentikan pemerintah, namun masyarakat masih melakukan pencarian secara mandiri terhadap anggota keluarganya yang hilang.

 

 

Sementara itu, ribuan keluarga dari 16 desa terdampak masih tinggal di pengungsian hingga kini. Secara umum, ada tiga tipe pengungsian.

 

 

Pertama adalah pengungsian yang berada di rumah-rumah warga. Ketika banjir bandang terjadi, para pengungsi memilih untuk berlindung di rumah-rumah warga yang tidak terdampak. Untuk tipe ini, pada umumnya tuan rumah dan pengungsi masih memiliki hubungan kekerabatan.

 

 

Kedua adalah pengungsian yang berada di area perkebunan. Rata-rata yang mengungsi di kebun adalah mereka yang memiliki kebun tersebut. Mereka tinggal di pondok-pondok yang sebelumnya merupakan tempat mereka menyimpan hasil panen. Di masa darurat seperti bencana ini, mereka memfungsikan pondok-pondok tersebut sebagai hunian sementara.

 

 

Kondisi pondok di pengungsian kebun (Foto: Muchamad Awal)

 

 

Sementara yang ketiga adalah pengungsian yang disediakan pemerintah. Mereka mengalihfungsikan sejumlah bangunan seperti kantor dan sekolah untuk dijadikan posko yang ditempati pengungsi.

 

No.

Keterangan

Jumlah Pengungsi

Lokasi Pengungsian

KK

Jiwa

1.

Pengungsi yang mengungsi di kebun warga

123

409

Kea Kodun, Duliwoho, Podu, Roko Onen, Besaman Hurun, Sinaria

2.

Pengungsi di Rumah Warga

213

659

 

23

59

Desa Waowala

26

82

Desa Petuntawa

14

54

Desa Kolontobo

1

4

Desa Laranwutun

149

446

Kelurahan Lewoleba Timur

3

10

Kelurahan Selandoro

3.

Pengungsi di Posko Pemerintah

318

1.172

 

Sumber: Barakat, 2021

 

 

Sejauh pantauan di lapangan, situasi paling memprihatinkan ada di pengungsian kebun. Selain harus tinggal secara berdesakan di dalam pondok yang sempit, mereka juga tidak memiliki pasokan air bersih yang cukup dan toilet darurat yang sehat. Tidak hanya itu, pondok yang rata-rata terbuka itu membuat para pengungsi sangat kedinginan ketika malam tiba.

 

Anak-anak mengisi hari-hari di pengungsian dengan bermain. Seperti tampak di latar belakang, pondok-pondok di kebun rata-rata terbuka (Foto: Muchamad Awal)

 

 

Meskipun ada sebuah sumur galian yang telah dibangun jauh sebelum bencana, namun itu tidak cukup memenuhi kebutuhan semua keluarga yang tinggal secara terpencar. Apalagi, jarak antara titik sumur dan sebagian besar pondok sangat jauh.

 

 

Sumur gali ini adalah tumpuan sejumlah warga untuk memenuhi kebutuhan memasak dan mencuci (Foto: Edward Angimoy)

 

 

Beberapa unit toilet darurat sebenarnya tengah dibangun sejumlah organisasi relawan. Namun hampir serupa dengan sumur, letak toilet itu pun jauh dari pondok para pengungsi. Dalam praktiknya, mereka akhirnya tak punya pilihan selain BAB secara terbuka di hamparan kebun.

 

 

Hasil panen jagung untuk persediaan selama di pengungsian (Foto: Edward Angimoy)

 

 

Beruntung, kebutuhan pangan mereka sampai saat ini masih terpenuhi. Pasalnya, musim panen jagung dari kebun-kebun mereka sedang berlangsung. Selain itu, persediaan kacang tanah dari hasil panen sebelumnya juga masih tersedia. Labu kuning yang ditanam di sekitar pondok juga menjadi pilihan lain yang bisa dipetik setiap saat.

 

 

Kacang tanah hasil panen dari kebun di sekitar pondok (Foto: Edward Angimoy)   

 

Pemerintah berencana untuk melakukan relokasi dan pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi 1.889 keluarga pengungsi. Namun demikian, rencana ini justru berpotensi memicu konflik baru.

 

 

Pertama, lahan relokasi yang disiapkan pemerintah memicu sengketa kepemilikan lahan antara beberapa suku. Mereka sama-sama mengklaim lahan tersebut adalah masing-masing milik mereka. Hingga kini belum ada kejelasan tentang perkembangan penyelesaian sengketa tersebut.

 

 

Kedua, mulai muncul protes di masyarakat terkait data warga pengungsi yang akan mendapatkan Huntap. Persoalan data yang tidak valid dinilai menjadi penyebabnya. Warga dan pemerintah setempat menganggap data penerima Huntap diputuskan secara sepihak oleh pemerintah pusat, tanpa keterlibatan mereka yang memahami situasi di desa.

 

    

Kamar mandi darurat yang dibangun para pengungsi di dekat pondok (Foto: Edward Angimoy)

 

 

Kondisi seperti ini kemungkinan besar membuat para pengungsi akan tinggal lebih lama di pengungsian, terutama mereka yang tinggal di pengungsian kebun. Jika demikian, maka kebutuhan dasar seperti air bersih, toilet darurat, perlengkapan pengungsian, serta kebutuhan khusus bagi kelompok rentan dan perempuan masih menjadi prioritas utama yang mesti segera dipenuhi. (Ed)

 
 
 

Berlangganan Buletin IDEP

Berikan bantuan yang akan merubah hidup. 100% mendanai proyek amal.

 

 

IDEP Foundation | Helping People to Help Themselves

IDEP Foundation | Yayasan IDEP Selaras Alam
Membantu Masyarakat Mandiri
Br. Medahan, Desa Kemenuh, Sukawati
Gianyar - Bali
Telp. +62 361 9082983

 

 
 
 

 

IDEP di Instagram