[email protected]

(+62) 361 9082983

Kebun-kebun Harapan: Dari Perbukitan Karst di Pesisir Selatan Yogyakarta Menuju Desa di Ujung Timur Pulau Jawa

Mendekati penghujung tahun 2019, kami datang mengunjungi kelompok petani tembakau di dua wilayah yang berbeda. Wilayah yang masing-masing membentang di ujung timur dan selatan Pulau Jawa. Dua wilayah itu adalah Kabupaten Jember di Jawa Timur dan Kabupaten Gunungkidul di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di antara dua wilayah tersebut, kami menyisir dua desa penghasil tembakau yang kelak, pada 2020, jumlahnya  akan bertambah menjadi tiga.

 

Bertolak dari Bali, perjalanan kami awali dari Yogyakarta. Desa Wareng merupakan destinasi pertama yang menyuguhkan bentang wilayah kapur nan kering. Terpaut hanya 10 menit dari jantung Kabupaten Gunungkidul, tepatnya Kecamatan Wonosari, Desa Wareng berada di ketinggian 142 meter di atas permukaan laut yang termasuk ke dalam bentang wilayah perbukitan karst. Perjalanan dari pusat kesibukan Daerah Istimewa Yogyakarta menuju kabupaten yang luasnya nyaris setengah dari total wilayah provinsi ini memakan perjalanan darat sekitar satu hingga dua jam naik, turun, dan membelah gundukan besar bukit-bukit karst.

 

 Virtual Exhibition 1

Lahan tembakau di Kabupaten Gunungkidul. (Photo: Santhi Wijaya)

  

Perjumpaan dengan Petani Wareng

Di antara hamparan petak-petak lahan persawahan yang didominasi oleh tanaman tembakau, kami bertemu dengan sebanyak 46 petani di rumah-rumah yang dibangun terpusat menjauh dari wilayah ladang dan mendekat ke jalan raya desa. Kami berkumpul di rumah limasan dengan halaman yang luas milik salah seorang dari mereka. Semuanya adalah petani tembakau yang kepemilikan lahannya tak lebih dari 50 ha. Jelas, mereka termasuk ke dalam kategori petani gurem yang menjadikan tembakau sebagai sumber pemasukan utama. Meski di sela-sela musim tanam tembakau, petani di Desa Wareng akan menanam jagung dan padi serta tanaman palawija lainnya. Namun, iklim yang cenderung kering memaksa petani hanya bisa bertanam padi di pergantian tahun selepas panen tembakau dan menjelang musim tanam tembakau berikutnya.

 

Virtual Exhibition 2

seorang petani saat musim tanam tembakau (Photo: Santhi Wijaya)

 

Lahan pekarangan di Desa Wareng adalah lahan pekarangan yang luas. Di perkampungan seluas 620.933 ha itu rumah-rumah limasan Jawa dibangun kokoh di pusat pekarangan, menyisakan banyak ruang-ruang kosong berpagar pepohonan legume yang mengelilingi bangunan utama. Kami menyaksikan lamtoro, turi, gamal, hingga tanaman potronggolo tumbuh subur menjadi batas-batas pekarangan. Di halaman belakang, tanaman rimpang-rimpangan juga dapat tumbuh liar di antara tanah-tanah kapur berbatu khas Gunungkidul. Mereka menyembul dari tanah di bawah teduhan pepohonan jati.  Dimulai dari sudut-sudut tak terpakai di pekarangan rumah, kami memperkenalkan permakultur. Tanaman-tanaman rimpang seperti jahe, temulawak, kunyit, kencur, hingga serai yang biasa dibiarkan tumbuh menjadi tanaman ‘belakang’ untuk kemudian dilihat sebagai potensi lokal yang dapat dikembangkan.

 

Depart to Arjasa in the Eastern End of Java

       Desa Arjasa adalah destinasi berikutnya dari perjalanan kami menyisir Pulau Jawa yang hanya dimulai dari bagian tengah. Di antara Raung dan Argopuro, desa itu membentang seluas 58.200 ha di ketinggian 141 meter di atas permukaan laut. Berada di bagian timur laut Kabupaten Jember, Arjasa berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Sukowono yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bondowoso. Kami menjumpai 32 orang petani tembakau di desa ini. Di antara mereka ada yang pemilik lahan, ada juga yang hanya petani penggarap dan penyewa. Lahan mereka tidak lebih dari 50 ha yang berarti mereka juga bisa digolongkan ke dalam kelompok petani gurem.

 

Tembakau di sana memiliki varietas yang berbeda dengan postur jauh lebih besar dan tinggi jika dibandingkan dengan tembakau di lahan persawahan Gunungkidul. Lahan-lahan tembakau itu menyebar berpetak-petak dan membaur dengan lahan yang ditanami oleh tanaman-tanaman lain. Namun, seluruhnya monokultur dan rotasi tanam cenderung tidak sering dilakukan. Begitu halnya dengan tingginya intensitas pengaplikasian pupuk dan obat-obatan kimia pengusir hama.

 

Kebun-kebun pekarangan di Arjasa tidak seluas yang kami jumpai di Gunungkidul. Rumah-rumah di sini dibangun berhimpitan dan nyaris tanpa sekat. Beranda satu bisa bergabung dengan beranda rumah yang lain, begitu pula dengan halaman rumah satu bisa melebur dengan halaman rumah yang lain. Di Arjasa, sawah adalah tempat mereka membudidayakan tanaman pangan dan tanaman-tanaman industri skala besar. Sedangkan kebun adalah lokasi di atas bukit, yang terselip di antara lahan-lahan nyaris hutan yang ditumbuhi bambu dan beberapa tanaman gadung yang dibiarkan liar. Di sela-sela tanaman apa saja yang tumbuh dengan sendirinya di sana, sesekali petani di Arjasa juga menanam singkong-singkong mereka.

 

Virtual Exhibition 3

Gadung dikupas oleh petani (Photo: Santhi Wijaya)

 

Berangkat dari pengamatan kami tentang kebun, ragam tanaman, dan olahan pangan lokal, kami juga memperkenalkan permakultur kepada petani tembakau di Desa Arjasa. Sebab di desa ini, ragam sumber pangan lokal seperti singkong dan gadung juga dibutuhkan sebagai bahan baku olahan kudapan lokal seperti keripik gadung, keripik singkong, dan tape. Namun, lantaran lahan-lahan persawahan utama difokuskan untuk tanaman-tanaman industri dan pertanian skala besar, maka tanaman pangan lokal seperti singkong dan gadung nyaris tak mendapat ruang. Jika beruntung gadung akan tumbuh menjalari batang-batang bambu di kebun dan singkong-singkong akan diselipkan di ruang-ruang kebun lainnya. Bahan baku olahan kudapan lokal ini justru mengambil dari desa lain, pun hasil olahan kudapan lokal ini hanya dijual setengah jadi untuk kemudian diolah kembali di kota lain dan berakhir dijual di Kabupaten Jember sendiri.

 

Bagaimana Kebun Pekarangan Dibuat

Kami kembali ke Pulau Jawa di pertengahan tahun 2020 yang terik. Di Bulan Juli kami mengawali kembali perjalanan dari Desa Wareng, Kabupaten Gunungkidul, untuk kemudian beranjak ke satu desa baru di sebelah barat. Kami tidak lagi hanya mengunjungi petani tembakau di Desa Wareng, tetapi juga Desa Pampang. Tidak jauh berbeda dengan Wareng, petani di Pampang juga menggantungkan hidup mereka dari hasil bertanam tembakau. Tanaman-tanaman palawija adalah pelengkap, sedangkan padi ditanam setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri. Kepada dua desa di Kabupaten Gunungkidul dan satu desa di Kabupaten Jember itu kemudian kami memperkenalkan permakultur.

 

Virtual Exhibition 4

Pembuatan kebun pekarangan oleh petani (Photo: Santhi Wijaya)

 

Merumahkan Tanaman ‘Dapur’ dari Halaman Belakang

Bagaimana kebun pekarangan mulai dibuat di Desa Wareng dan Desa Pampang adalah persoalan ‘merumahkan’ tanaman-tanaman yang sebelumnya selalu mereka beli dari  pasar. Tidak semua keluarga di dua desa itu menanam jahe-jahean, kencur, kunyit, dan serai untuk mereka konsumsi sendiri. Beberapa memiliki kunyit-kunyitan di halaman belakang rumah yang tumbuh liar dan nyaris tak pernah dipanen. Hingga pada musim kemarau di pertengahan tahun 2020 yang lalu, petani dan keluarga petani di Wareng dan Pampang mulai membuat kebun pekarangan mereka dan menanam jahe-jahean, kunyit, kencur, dan serai.

 

Virtual Exhibition 5

Seorang petani menutup bedengan dengan mulsa organik. (Photo: Santhi Wijaya)

 

Waktu itu matahari sedang sangat terik. Tanaman tembakau masih berseri-seri di petak-petak lahan persawahan desa. Saat itu bulan Juli dan panen tembakau masih dilakukan oleh beberapa orang petani saja. Sebanyak 89 keluarga petani tembakau dari Wareng dan Pampang mulai mencacah batang pisang yang mereka tebang dari kebun pekarangan sendiri. Mereka mengumpulkan dedaunan legume. Tanaman-tanaman pagar seperti lamtoro, gamal, turi, dan potronggolo tidak lagi hanya diberikan kepada ternak. Kini ternak-ternak harus membaginya dengan kebun. Mereka juga mungumpulkan kotoran sapi dari kandang ternak milik keluarga di ujung pekarangan. Lapisan tanah paling atas mulai dikeruk, batang-batang tembakau yang menjadi limbah disusun di lapisan paling bawah. Limbah batang tembakau kemudian ditumpuk dengan dedaunan legume, ditumpuk lagi dengan tanah dan pupuk kandang hingga terturup secara menyeluruh. Di Wareng dan Pampang jerami melimpah. Jerami-jerami itu kemudian digunakan untuk menutup rata gundukan bahan organik dan tanah yang sebelumnya telah dibuat. Begitulah petani di Wareng dan Pampang mulai merehabilitasi tanah dan membuat kebun di sudut-sudut pekarangan rumah mereka.

 

Virtual Exhibition 6

Kebun pekarangan petani di Desa Pampang (Photo: Santhi Wijaya)

 

Bibit-bibit jahe, kencur, dan kunyit mulai ditanam di bedeng-bedeng kebun yang telah dipersiapkan. Genting bekas, sempalan pohon yang cukup besar, hingga batu-batu cadas yang berserakan di pekarangan kemudian dimanfaatkan sebagai pembatas bedeng agar gundukan-gundukan tanahnya terjaga. Serai ditanam mengelilingi area kebun sebagai pagar hidup. Berselang satu bulan kemudian tanaman-tanaman sayur diselipkan di antara jahe, kunyit, dan kencur sebagai pelengkap sumber gizi keluarga.

 

Barisan di Antara Tembakau: Tanaman-tanaman Alternatif

Di Arjasa, sebanyak 15 orang petani tembakau juga mulai membuat kebun-kebun mereka. Lahan-lahan kebun yang terletak di bukit kini tidak hanya diteduhi bambu. Namun di bawah teduhan bambu itu mereka menanam bibit-bibit gadung, sedangkan di ruang-ruang kebun yang mendapat banyak sinar matahari mereka tanami dengan singkong dan pepaya. Di antara petak-petak barisan tembakau Desa Arjasa yang menjulang tinggi tersebut, kini terselip tanaman-tanaman alternatif. Petani di Arjasa juga melakukan hal yang sama dengan yang petani di Wareng dan Pampang lakukan. Mereka belajar untuk berkenalan dan menerapkan permakultur.

 

Virtual Exhibition 7

 Lahan singkong petani di Desa Arjasa (Photo: Santhi Wijaya)

 

Dinamika Ladang dan Kebun Pekarangan

Di hadapan petani, permakultur tak ubahnya hanya sekadar istilah. Jauh sebelum kami menginjakkan kaki di Gunungkidul dan Jember, para petani di desa telah berjibaku dengan cara-cara berladang yang alami. Pada akhirnya mereka semua adalah guru kami. Dalam banyak segi, jauh sebelum Revolusi Hijau membawa janji-janji kesejahteraan petani, mereka mempercayakan kesuburan tanah kepada bahan-bahan organik lokal yang dekat dan sangat mudah dicari. Kini, di petak-petak pesawahan yang kami jumpai adalah barisan tanaman-tanaman yang memaksa si empunya menanggung beban pengeluaran pupuk dan pestisida kimia hampir di setiap musim penanamannya. Keluhan petani atas rusaknya tanah dan maraknya hama adalah saksi kuncinya.

 

Bertani dan Bertaruh dengan Musim

 Bulan Agustus 2020, kemarau masih tetap terik. Seakan bergiliran, tembakau-tembakau satu per satu dipetik daunnya oleh beberapa petani untuk disusul petani-petani yang lainnya. Waktu panen akan berbeda antara keluarga petani yang satu dengan lainnya.  Daun-daun tembakau cukup umur itu dipetik dengan telaten dari bawah, ditumpuk dan diangkut untuk dibawa pulang ke rumah. Tumpukan daun-daun tembakau tadi harus dijemur di bawah terik matahari. Namun, proses panen berjalan lancar hingga pada akhirnya petani harus menghadapi hujan yang datang tidak di waktu yang seharusnya.

 

Siang itu, saat awan mendung telah merebut ruang-ruang lapang matahari terik, kami mengunjungi kebun pekarangan para petani di Wareng dan Pampang. Sebagian kebun mereka tergenang oleh tadahan hujan. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Petak-petak kecil kebun pekarangan yang tidak lebih tinggi dari arah datangnya air tidak mampu menahan genangan. Tanaman empon-empon banyak yang tergenang. Tentu saja, pengalaman ini adalah yang pertama kali dihadapi oleh petani Wareng dan Pampang. Kebun pekarangan yang liat dan lengket tidak biasa mereka maksimalkan penggunaannya untuk bertanam. Peletakan kebun pekarangan yang kurang perhitungan membuat si empunya belajar, bahwa bedeng tanaman juga harus mampu menahan derasnya air hujan yang datang.

 

Terik kemarau adalah kabar baik untuk petani tembakau, sedangkan kejutan hujan di bulan-bulan yang seharusnya kering di tahun itu tidak hanya cukup petani terima di kebun-kebun pekarangan. Melainkan, tergenangnya bedeng tanaman datang bersamaan dengan daun-daun tembakau yang terancam basah dan mungkin, terancam gagal. Situasi ini terang mengantarkan petani di Wareng dan Pampang untuk senantiasa memiliki daya pegas. Mereka seakan harus menanam dan bertaruh dengan musim. Daun-daun tembakau itu menunggu untuk segera dipetik, dikeringkan, dan dihindarkan dari banyak kemungkinan terserang jamur, sedangkan di sudut pekarangan yang lain telah menunggu sepetak kebun yang belum saja lama mereka kenali.

 

Kebun Tetangga, Penyakit, dan Penularan

Seperti dua desa sebelumnya, Arjasa juga mengalami situasi yang tidak jauh berbeda. Musim hujan yang datang lebih cepat membuat petani harus tergesa memetik dun-daun tembakau mereka, menyulamnya dengan benang dan menjemurnya selagi bisa. Namun, musim hujan juga mendatangkan sedikit petaka di kebun-kebun pepaya. Petak-petak kebun yang telah dibuat dan dirawat tanpa input pupuk dan pestisida kimia tetap saja terserang hamba dari kebun tetangga. Pengalaman menanam pepaya dengan metode permakultur adalah kali pertama. Di tengah gemuruh mendung dan berkejaran dengan datangnya hujan, petani di Arjasa pergi dari lahan tembakau ke kebun pepaya untuk memanen dan merehabilitasi tanah di kebunnya. Mereka menggemburkan tanah, menambahkan garam, kemudian kapur.

 

Dari beberapa segi, pengalaman menanam tanpa input kimia bisa jadi amat sulit untuk mereka adaptasikan di tengah pola laku bertani mereka yang telah lama ‘dikimiakan’. Namun di beberapa segi yang lain, dinamika menanam dan bertaruh dengan musim mampu memberikan pengalaman yang nyaris utuh perihal pentingnya menciptakan ruang-ruang kebun yang adaptif dan tangguh. Pengalaman yang petani di Arjasa hadapi tentang pepaya-pepaya mereka yang tertular penyakit dari kebun tetangga mewarnai perjalanan panjang belajar tersebut. Bahwa kebun yang ‘tangguh’ mungkin juga tidak bisa seterusnya berdiri sendiri, rehabilitasi tanah, dan keanekaragaman hayati di kebun juga turut menjadi kunci.

 

Panen Pertama

       Saat itu bulan Mei 2021. Musim hujan telah cukup lama beranjak dan petani satu per satu mempersiapkan ladang mereka untuk musim tanam tembakau yang baru. Di waktu-waktu yang nyaris pertengahan tahun itu, beberapa petani bahkan ada yang telah memanen daun-daun tembakau mereka yang paling bawah. Mereka sudah mulai merenteng dan menjemurnya. Meski tak banyak yang melakukannya dan beralih memenuhi petak-petak lahan mereka dengan semangka. Di waktu-waktu itu pula kebun pekarangan yang mereka buat di sudut-sudut halaman rumah juga berbuah. Tanaman-tanaman jahe, kunyit, dan serai mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa waktu panen sudah tiba.

 

Satu demi satu petani mencabut tanaman-tanaman jahe, kunyit, dan kencurnya. Mereka mulai memanen dan memotong serai juga. Seperti halnya saat panen tembakau, panen di kebun pekarangan juga tidak dilakukan dengan serentak. Seakan memang bergiliran, mereka melakukannya secara bergantian lantaran waktu tanam yang berbeda. Bibit-bibit yang kami berikan untuk ditanam di kebun juga tidak lantas dipanen seluruhnya. Kami memperkenalkan sistem kalender tanam untuk menghindari panen serentak terjadi di seluruh wilayah desa. Dari sini, petani mulai belajar untuk melakukan manajemen waktu tanam dan waktu panen sesuai dengan kesibukan mereka di ladang untuk tanaman pertanian lainnya.

 

Virtual Exhibition 8

 Kunyit dari kebun pekarangan petani di Desa Wareng. (Photo: Santhi Wijaya)

 

Mei yang terik telah meninggalkan sengat panas mataharinya. Hujan datang lagi di pertengahan tahun di waktu yang barangkali juga belum waktunya. Saat itu petani masih memanen jahe, kunyit, kencur, dan tanaman-tanaman serai mereka. Hasilnya tidak semua dijual, meski kini mereka tahu ke mana harus menjual. Namun, hasil panen kebun pekarangan itu pergi ke dapur. Petani tidak lagi perlu membeli jahe, kunyit, kencur, dan serai sebab kebun pekarangan menyediakannya untuk mereka.

 

Virtual Exhibition 9

Suryadi dan istrinya memanen serai dari kebun. (Photo: Santhi Wijaya)

 

Adalah Rina, seorang petani dari Wareng bertutur kepada kami, “Meski hasilnya tidak banyak, tapi kami senang tidak lagi harus membeli. Sebagian hasil panennya kami manfaatkan untuk keperluan dapur, sebagian lagi diolah menjadi minuman serbuk. Hasilnya nanti sebagian untuk konsumsi keluarga dan sebagian lagi dibagikan ke tetangga”. Lain Rina, ada Karsidi dari Desa Pampang yang bercerita kepada kami bahwa kini anaknya yang berjualan bakso tak lagi harus membeli jahe di pasar. Jahe yang harganya relatif mahal itu kini bisa dipanen dari kebun sendiri dan mengurangi modal  berjualan yang harusnya dikeluarkan.

 

Masih di bulan Juni yang sesekali mendung, kami mengunjungi kebun seorang petani bernama Suryadi di Desa Pampang. Saat itu tanaman di bulan penanaman yang pertama telah dipanen. Istri Suryadi keluar menyambut kami dan bercerita bahwa kunyit-kunyit di kebun mampu menghasilkan 9 kg rimpang.

 

Virtual Exhibition 10

Sarno dan istrinya menunjukkan hasil panen (Photo: Santhi Wijaya)

 

Beranjak dari Desa Pampang, kami beralih ke Desa Wareng. Siang itu kami membantu keluarga Sarno untuk melakukan panen pertama. Tanah di petak kebun pekarangan belakang Sarno kini sudah gembur dengan batang-batang jahe yang sudah merekah dan kencur yang sudah memberi tanda untuk dicabut dengan segera. Marwiyah, istri Sarno, pergi mengambil beberapa alat pertanian untuk membantu kami mencongkel dan mencerabut tanaman-tanaman tadi dari tanahnya. Pengalaman pertama panen jahe dan kunyit dari kebun pekarangan ini tidak memberikan pasangan suami-istri ini gambaran sama sekali bahwa proses mencabutnya akan sangat berat. Mereka bertanya kepada kami mengapa berat sekali mencabut tanaman kencur tersebut. Ternyata, hasilnya cukup di luar yang mereka bayangkan sendiri. Sarno dan Marwiyah mendapatkan 8 kg kunyit dari hasil panen pertama.

 

Virtual Exhibition 11

Rina meminum minuman jahe dari kebun bersama anggota keluarganya (Photo: Santhi Wijaya)

 

Dari Yogyakarta kami pergi ke bagian timur Jawa di Desa Arjasa. Petani telah mencongkel gadung-gadung mereka yang ditanam menjalar di pohon-pohon bambu. Petani bernama Siti yang mengatakan bahwa gadung-gadung hasil panen tersebut digunakan sebagai modal pembuatan kripik gadung yang sebelumnya mereka harus beli. Gadung-gadung Siti kini tidak seluruhnya berasal dari kebun-kebun di desa lain, melainkan sebagian besar telah ia panen dari kebunnya sendiri. Tidak hanya Siti, Juhairiyah yang menjual tape singkong di Pasar Sukowono juga menggunakan hasil panennya untuk menambah sebagian besar jumlah bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi tape.

 

Wabah dan Upaya Memotong Mata Rantai

Siapapun tidak pernah menyangka bahwa wabah penyakit akan melanda. Awal tahun 2020 hingga pertengahan tahun itu, relasi desa-kota dipaksa semakin menunjukkan batasnya dengan kacaunya banyak rantai pasok makanan dari lahan pertanian di desa-desa untuk memenuhi banyak kebutuhan di kota. Tidak butuh waktu yang lama, eksodus besar dari kota kembali ke desa terjadi begitu saja. Mereka yang lapar pergi menjauh dari kota-kota besar. Agaknya, wabah mulai menumbuhkan kesadaran bahwa saat krisis datang maka penduduk di kota adalah barisan terdepan yang paling rentan. Dari wabah, kami belajar bahwa desa adalah tempat di mana mereka bisa mendapatkan kendali mutlak atas banyak pemenuhan kebutuhan pokok. Kebun kecil di sudut pekarangan hanyalah sebuah permulaan.

 

Virtual Exhibition 12 

Rina mengemas minuman jahe dan kunyit instan (Photo: Santhi Wijaya)

 

Di bulan Juli 2021 yang semakin hujan, petani di Wareng dan Pampang melakukan pemanenan pada tananaman mereka di bulan kedua. Bulan pertama dilalui dengan banyak pembelajaran atas pemenuhan kebutuhan keluarga dan nilai tambah, maka di bulan ini olahan serbuk minuman jahe, kunyit, kencur, dan serai tidak hanya diseduh di rumah melainkan dikemas dan mulai dijual ke tetangga dengan sebagian besar petani lainnya menjual hasil panen mereka dalam kondisi mentah.

 

Virtual Exhibition 13

Produk-produk petani Arjasa (Photo: Santhi Wijaya)

 

Wabah, hama, musim yang datangnya sulit dikira-kira, dan penyakit menular dari kebun tetangga nyaris menjadi satu paket pembelajaran yang sempurna bahwa sistem pertanian dan rantai pasok makanan yang kita miliki selama ini bisa dibilang cukup rentan dan lemah. Seakan tidak memiliki daya lenting sama sekali, semua kebutuhan seakan hanya bisa dipenuhi jika membeli. Kini petani di Wareng, Pampang, dan Arjasa memiliki kesempatan untuk membuat rantai akses kepada pasar menjadi lebih pendek lagi. Hasil kebun yang sebelumnya harus dijual ke pengepul kini bisa mereka olah dan mereka pasarkan sendiri. Jahe, kunyit, kencur, dan serai segar bisa mereka jual langsung kepada mitra lokal tanpa melalui rantai pasok panjang yang tak memberikan kesempatan bagi petaninya sendiri untuk tahu ke mana hasil panen itu akhirnya bermuara. Pun petani di Arjasa dengan gadung dan singkong yang tidak lagi mengambil banyak bahan baku kripik serta tape dari luar daerah. Pada akhirnya, perjalanan kami selama satu tahun bersama petani di Wareng, Pampang, dan Arjasa adalah perjalanan belajar yang panjang dan penuh dengan dinamika. Kami belajar banyak tentang bagaimana permakultur dapat diterapkan di Jawa. (Re)

 

 
 
 

Berlangganan Buletin IDEP

Berikan bantuan yang akan merubah hidup. 100% mendanai proyek amal.

 

 

IDEP Foundation | Helping People to Help Themselves

IDEP Foundation | Yayasan IDEP Selaras Alam
Membantu Masyarakat Mandiri
Br. Medahan, Desa Kemenuh, Sukawati
Gianyar - Bali
Telp. +62 361 9082983

 

 
 
 

 

IDEP di Instagram