|
Pada tahun 1998 Indonesia memasuki tahap krisis moniter dan sosial. Dalam menanggapi hal ini sekelompok orang di Bali berkumpul untuk membahas apa yang harus dilakukan untuk membantu keadaan saat itu. Beberapa orang dari kelompok ini adalah anggota organisasi-organisasi seperti INI, RADEF dan PPLH, dan beberapa professional yang mempunyai keinginan murni untuk membantu.
Kelompok ini membahas dinamika dibalik meningkatnya tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, dan melakukan evaluasi terhadap sumber-sumber alam dan manusia yang ada di bumi Nusantara ini. Berdasarkan penyelidikan awal diputuskan untuk memusatkan perhatian dalam penguatan kapasitas program-program LSM untuk menghadapi tantangan di wilayah-wilayah di Indonesia.
Makalah berikutnya adalah mencari jalan yang terbaik untuk mencapai tujuan yang menantang ini, dan diputuskan untuk mengadakan Training of Trainers dalam Desain Permakultur, yang memberikan LSM-LSM pengetahuan dan pengertian tentang peralatan yang diperlukan untuk membantu masyarakat lokal mereka dan program yang bermanfaat dalam penyediaan makanan, permukiman, enerji dan kebutuhan lain secara berkelangsungan.
Salah satu dari ahli Permakultur dunia, Robin Francis dari Permaculture Education di ERDA Institute, diundang untuk melatih 200 peserta dari LSM-LSM seluruh Indonesia. Pada akhir masa pelatihan intensif selama 3 minggu ini, mereka mendapat sertifikat sebagai Desainer Permakultur. Semua ini bisa terjadi berkat sumbangan dari bisnis-bisnis lokal dan dukungan perseorangan.
Pelatihan ini telah diterima dengan baik, dan dalam umpan baliknya para peserta menyatakan bahwa pengetahuan ini tepat untuk diterapkan di Indonesia. Terlihat adanya banyak kebutuhan dan tuntutan akan proyek-proyek yang berfokus dalam bidang pendidikan ini dan perkembangan yang berkelangsungan; maka Yayasan IDEP dan Yayasan MACK (Membina Api Cinta Kasih) didirikan untuk meneruskan tugas yang penting ini.
Banyak peserta yang telah mulai mengintegrasikan tehnik-tehnik desain sustainable yang baru ini ke dalam program-program mereka dan meminta Yayasan IDEP untuk mengembangkan referensi dan dukungan peralatan untuk membantu program-progran ini.
|