[email protected]

(+62) 361 9082983

Perjuangan Ibu Tunggal di Tengah Pandemi

Kemiskinan meningkat semenjak pandemi Covid-19 melanda. Banyak masyarakat yang harus kehilangan pekerjaannya, usaha kecil mesti gulung tikar, dan tidak sedikit siswa yang harus putus sekolah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya peningkatan lebih dari 2,7 juta warga miskin di Indonesia semenjak masa pagebluk menerpa. Penghasilan yang diperoleh sebagian besar masyarakat di Indonesia sebesar Rp. 460.000 per orang, atau Rp. 2.200.000 per keluarga. 

IDEP berbagi benih lokal kepada ibu tunggal di Sukawati, Bali (Photo: Gusti Diah)

 

 

Menurunnya kondisi ekonomi masyarakat di Indonesia, tentu berdampak bagi perempuan, terlebih yang telah memiliki tanggungan. Melansir Tempo, pola aktivitas yang mewajibkan pekerja untuk berkegiatan di rumah (work from home) berdampak pada beban perempuan yang bertumpuk. Apalagi murid-murid yang diwajibkan untuk belajar di rumah. Selain itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan 93 persen pekerja di UMKM adalah perempuan. Sektor informal tersebut adalah yang paling terkena imbas dari pandemi.

 

 

Perempuan secara umum sangat terkena dampak dari wabah ini, apalagi mereka yang harus menghidupi keluarganya sendirian. Permasalahan ini menimpa para ibu-ibu tunggal yang mesti berjuang untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Seperti dialami Sri Handayani yang harus mengupayakan berbagai cara untuk bisa menyekolahkan kedua anaknya. 

 

 

Family bucket untuk keluarga Sri Handayani di Denpasar, Bali (Photo: Gusti Diah)

 

 

Ketika pandemi Covid-19 melanda, perempuan berusia 37 tahun ini harus dirumahkan tanpa menerima pesangon sedikitpun. Semenjak saat itu, Handayani mesti memutar otak untuk bisa bertahan hidup. Meskipun masalah yang begitu mendadak, Ibu dua anak ini mengupayakan berbagai cara, seperti menjual cemilan, roti, hingga alat tulis. “Semenjak corona ini saya sering nangis, gimana ya cari kerjaan juga susah..tapi harus strong lah, harus itu,” ungkap Handayani sambil merangkul kedua anaknya. 

 

 

Tidak hanya Handayani, pandemi juga berdampak bagi Made Pariani yang kesehariannya berjualan pakaian di Pasar Seni Sukawati. Ibu tunggal ini harus berjuang ketika pariwisata melemah dan tidak ada lagi ‘tamu’ yang datang untuk menjajakan dagangannya. “Sudah lebih dari 3 bulan engga dapet garus [pemasukan],” tutur ibu dua anak ini. 

 

 

Perlengkapan sekolah untuk anak-anak Pariani di Sukawati, Bali (Photo: Gusti Diah)

 

 

Mengambil pekerjaan lain pun tidak bisa, sebab perempuan berusia 42 tahun ini tidak bisa meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil. Beruntung, anak-anak Pariani begitu mengerti dan terus mendukung ibunya. 

 

 

Perjuangan para ibu-ibu tunggal ini yang menginspirasi Yayasan IDEP Selaras Alam dalam merancang program Family Bucket to Single Mothers. Dimulai dari 10 Agustus 2020, IDEP memulai distribusi bantuan rumah tangga kepada beberapa ibu-ibu tunggal di seluruh Bali. Program ini akan terus berlangsung selama pandemi melanda. Hingga April 2021, IDEP telah mendistribusikan family bucket kepada lebih dari 70 keluarga.

 

 

Membawa family bucket untuk Ibu Tunggal (Photo: Gusti Diah)

 

 

Selain bantuan sembako, family bucket juga dilengkapi dengan benih organik IDEP. Benih-benih lokal tersebut didistribusikan kepada setiap keluarga untuk membawa semangat keberlanjutan. Melalui bantuan ini, para ibu tunggal akan semakin tangguh ketika mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarganya secara mandiri. Upaya mereka akan disalurkan melalui kegiatan menanam. Karena dengan menanam, kebutuhan pangan keluarga akan terpenuhi secara berkelanjutan. (Gd)

 
 
 

Berlangganan Buletin IDEP

Berikan bantuan yang akan merubah hidup. 100% mendanai proyek amal.

 

 

IDEP Foundation | Helping People to Help Themselves

IDEP Foundation | Yayasan IDEP Selaras Alam
Membantu Masyarakat Mandiri
Br. Medahan, Desa Kemenuh, Sukawati
Gianyar - Bali
Telp. +62 361 9082983

 

 
 
 

 

IDEP di Instagram