[email protected]

(+62) 361 9082983

Peluncuran balipartnership.org untuk Mendukung Pengelolaan Sampah Berbasis Data di Bali

Pada hari Selasa, 8 Juni 2021, IDEP menghadiri peluncuran balipartnership.org yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Universitas Udayana secara daring. Selain daring, kegiatan tersebut juga diselenggarakan secara luring di Auditorium Universitas Udayana dengan kapasitas terbatas. Balipartnership.org merupakan sebuah situs web  yang menjadi pelantar diseminasi data berkaitan dengan distribusi sampah di Bali dan para pemangku kepentingan yang berperan dalam permasalahan sampah di Bali.

 

 

IDEP mendukung diresmikannya balipartnership.org karena pelantar ini menjadi salah satu terobosan penting dalam pengelolaan sampah yang berbasis data. Keterbukaan dan kemudahan akses terhadap informasi yang disajikan di dalamnya dapat membantu masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menentukan langkah strategis dan kolaboratif dalam mengatasi permasalahan sampah secara utuh.

 

 

Proyek pengelolaan sampah berbasis riset ini disusun oleh Program Pascasarjana Universitas Udayana melalui pendanaan yang berasal dari Kementerian Luar Negeri Norwegia. Rancangan proyek ini telah berlangsung sejak tahun 2018. balipartnership.org merupakan salah satu keluaran utama dalam proyek tersebut. Dua prioritas dalam pelantar ini mencakup pemantauan tangkapan sampah dan pengawasan sungai.

 

 

Duta Besar Norwegia menyampaikan sambutan secara daring

 

 

Dalam sambutannya, Duta Besar Norwegia Vegaard Kaale menyampaikan dukungan pemerintah Norwegia terhadap komitmen kuat pemerintah Indonesia dalam mengatasi permasalahan sampah, khususnya sampah plastik. Sebagaimana komitmen Presiden Jokowi bahwa Indonesia akan mengatasi permasalahan sampah laut khususnya mengurangi sampah plastik hingga 70% pada tahun 2025. Duta Besar Veegard Kaale juga turut menyampaikan apresiasi terhadap inovasi dalam Balipartnership.org yang menggunakan pendekatan ilmiah untuk memberikan proyeksi terhadap sumber sampah dan pemangku kepentingan yang berkaitan di Bali.

 

 

Di pihak lain, Direktur Pengelolaan Sampah Bali, Novrizal Tahar, menyampaikan dalam pembukaannya bahwa permasalahan sampah menjadi variabel penting sebagai bagian pengelolaan pariwisata di Bali. Melalui pemetaan dalam balipartnership.org diharapkan bisa mendukung pemerintah dan masyarakat untuk memahami kondisi riil permasalahan sampah dan memudahkan intervensi dan menentukan prioritasnya. Dengan demikian, setidaknya Bali dapat memimpin pengelolaan sampah nasional yang saat ini sudah terintegrasi sistemnya. Ia juga menekankan pentingnya melakukan aksi sehingga penggunaan data tersebut dapat menjadi realitas, tidak hanya utopia.

 

 

Praktik Terbaik dan Hasil Riset untuk Menyelesaikan Permasalahan Sampah di Bali

 

 

 

Presentasi Griya Luhu tentang aktivitas mereka sebagai salah satu inisiatif lokal terkait pengelolaan sampah

 

Presentasi Ni Made Widiasari tentang Kemitraan Bali Resik (KBR)

 

 

Kegiatan peluncuran tersebut juga diisi dengan diseminasi hasil kegiatan maupun riset dari beberapa aktivis dan akademisi yang telah menjadi bagian dari praktik terbaik dalam pengelolaan sampah. Salah satunya Ida Bagus Mandhara Brasika yang menginisiasi Griya Luhu, sebuah bank sampah yang difasilitasi dengan teknologi informasi melalui aplikasi Android. Dengan aplikasi ini, data sampah dan distribusi pengolahannya dapat dipantau. Ada juga Ni Made Widiasari, aktivis dari Kemitraan Bali Resik (KBR), berbagi tentang inisiatif mereka membentuk forum multi stakeholder untuk mengkaji permasalahan sampah di Bali. Tidak hanya itu, KBR juga aktif melakukan advokasi melalui kampanye untuk perubahan perilaku masyarakat.

 

 

Lincoln Sihontang mempresentasikan hasil risetnya untuk balipartnership.org

 

 

Selanjutnya, ada Lincoln Sihontang dan Nicolas Loncle yang memberikan presentasi mengenai aspek data dalam hasil riset yang mendasari pelantar balipartnership.org dan pemetaan yang disajikan. Dari hasil pengumpulan data, pelantar ini dapat menampilkan dua macam data, yaitu data kebocoran sampah plastik dan data sampah yang tidak terkelola.

 

 

Selain itu, balipartnership.org juga dapat menunjukkan peta kondisi daerah aliran sungai di Bali sehingga analisis tentang daerah yang berpotensi untuk melepaskan sampah ke laut dapat dilakukan. Pelantar ini juga mampu menunjukkan pemangku kepentingan seperti TPA (tempat pembuangan sampah akhir), organisasi yang bergerak di bidang riset dan kampanye perubahan perilaku, hingga timbunan sampah di tingkat kabupaten serta agensi pemerintah yang membawahinya. Nicolas Loncle turut menekankan bahwa peta interaktif yang tersedia di balipartnership.org tersebut seluruhnya merupakan hasil penelitian teruji yang diterjemahkan ke dalam bentuk data spasial. Dengan demikian,  seluruh pengguna pelantar ini dapat mengeksplorasi hasil riset tanpa harus membaca seluruh hasil riset.

 

 

Riset Akademisi untuk Mendukung Solusi atas Permasalahan Sampah Plastik

 

Presentasi dari Dr. Costas Velis (ISWA - Marine Litter Task Force)

 

Presentasi dari I Gede Hendrawan, Ph.D (Remoe Sensing & Ocean Science, Universitas Udayana)

 

 

Akademisi lain yang turut berbagi hasil risetnya adalah Dr. Costas Velis, dari Marine Litter Task Force. Bersama timnya, ia membentuk Plastic Pollution Calculator (PPC) yang dapat memberikan data dasar dan acuan dalam melakukan pengukuran serta menentukan sumber dan area sampah plastik. Melalui PPC, pengguna dapat menganalisis gambaran sampah plastik yang lebih lengkap, termasuk di antaranya faktor lingkungan seperti jumlah turis, kecepatan angin, kebocoran, aktivitas kegiatan/festival, dan lainnya. Hal ini dikarenakan PPC mempertimbangan secara mendalam aspek sosial-ekonomi dalam permasalahan sampah plastik pada khususnya.

 

 

Selain itu, ada I Gede Hendrawan, Ph.D, perwakilan dari Centre for Remote Sensing and Ocean Science, yang berbagi hasil riset tentang estimasi kebocoran sampah plastik ke laut. Dalam diseminasinya, ia menyampaikan hasil risetnya yang  berfokus pada identifikasi sampah (micro plastic) di seluruh wilayah pesisir Bali serta survei karakteristik perilaku dan sampah rumah tangga. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa 50% rumah tangga menggunakan tas plastik 1–2 buah per hari dan 41% dari total sampah plastik itu tidak terkelola dengan baik (dibakar/dibuang sembarangan). Di saat yang sama, efektivitas pengangkutan sampah masih belum efektif karena hanya 59% yang menyatakan pengangkutan sampah sudah baik. Dalam kondisi demikian, riset ini kemudian menemukan bahwa sampah plastik yang bisa teridentifikasi jumlahnya ada 3,9 ton/km2 di pesisir pantai, 20.7 ton/km2 di sungai, dan 2.1 ton/km2 di daratan yang bisa teridentifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa Bali perlu melakukan pengurangan sampah plastik dan peningkatan pengelolaan sampah secara keseluruhan.

 

 

IDEP terus berupaya berkontribusi dengan menawarkan solusi alternatif untuk mengatasi  permasalahan sampah tersebut. Salah satunya mengajak lebih banyak masyarakat dalam  menerapkan konsep Permakultur di kehidupan sehari-hari. Secara khusus, Permakultur menekankan pentingnya integrasi berbagai aspek dalam rumah tangga, termasuk di antaranya pengelolaan sampah rumah tangga. Bahkan dalam praktik yang sangat ketat, penerapan Permakultur dapat membantu rumah tangga untuk tidak menghasilkan sampah (zero waste). Materi dasar berkaitan dengan permakultur dapat diakses secara gratis pada tautan berikut: bit.ly/IdepGarden(Fhn, Da)

 
 
 

Berlangganan Buletin IDEP

Berikan bantuan yang akan merubah hidup. 100% mendanai proyek amal.

 

 

IDEP Foundation | Helping People to Help Themselves

IDEP Foundation | Yayasan IDEP Selaras Alam
Membantu Masyarakat Mandiri
Br. Medahan, Desa Kemenuh, Sukawati
Gianyar - Bali
Telp. +62 361 9082983

 

 
 
 

 

IDEP di Instagram