[email protected]

(+62) 361 9082983

Belajar Permakultur: Tingkatkan Kapasitas Staff IDEP

Dalam upaya meningkatkan kapasitas para staff IDEP, kegiatan Pelatihan Desain Permakultur diadakan selama sembilan hari dari 24 Mei - 1 Juni 2021. Pelatihan yang diadakan di kantor IDEP ini diikuti oleh 14 staff IDEP dengan selalu mematuhi protokol Covid-19.


 

Pemaparan materi tentang etika dan prinsip permakultur (24 Mei 2021) (Foto: Utama Wira)

 

 

Memahami permakultur bagi seluruh staff IDEP adalah sebuah keharusan, sebab konsep ini selalu menjadi acuan dalam setiap kegiatan bersama masyarakat. Penerapan permakultur pun idealnya dimulai dari dalam diri dan keluarga, sehingga IDEP sebagai sebuah keluarga perlu memahaminya. Maka dari itu, pelatihan di hari pertama diawal dengan pengenalan konsep permakultur secara filosofis.

 

 

Peserta diajak mengenal permakultur secara filosofis sebagai budaya kehidupan yang berkelanjutan. Dalam proses ini, diskusi yang panjang pun tidak bisa dipungkiri. Peserta larut dalam diskusi untuk menggali dan menumbuhkan pemahamannya. Diskusi tersebut mencakup etika dan prinsip permakultur, tentang Peduli Bumi, Peduli Sesama, dan Pembagian yang Adil. Ketiga aspek ini merupakan landasan awal untuk mewujudkan keberlanjutan dan kemampuan manusia dalam beradaptasi, sehingga mampu hidup bertahan dalam kondisi apapun.

 

 

Melakukan observasi di Sawah IDEP (24 Mei 2021) (Foto: Gusti Diah)

 

 

Setelah peserta mengetahui dasar dan tujuan dari Permakultur, proses menuju praktik pun dilakukan dengan materi zona-zona dalam Permakultur. Zonasi ini dibagi menjadi lima, diantaranya: zona satu (diri dan keluarga), zona dua (desa/komunitas), zona tiga (kawasan produksi), zona empat (kawasan hutan masyarakat), dan zona lima (kawasan konservasi). Dimulai dari hari ketiga, peserta akan mengobservasi penerapan setiap zona di beberapa tempat.

 

 

Penerapan zona ini dimulai dari yang paling kecil, sehingga pelatihan berfokus pada langkah penerapan permakultur dari dalam diri dan lingkup rumah. Materi yang diberikan juga memperlihatkan konsep rumah permakultur yang ramah lingkungan dan mengikuti pola alam.

 

 

Membuat kebun spiral di kantor IDEP (26 Mei 2021) (Foto: Gusti Diah)

 

 

Membuat eco enzym dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar kantor (Foto: Gusti Diah)

 

 

Selain pola pikir, peserta juga diajak untuk secara perlahan menerapkan pola lakunya. Maka dari itu, pelatihan ini tidak hanya memberikan materi, melainkan juga praktik secara langsung. Pada sesi praktik, peserta diajak untuk membuat sabun dari lerak, virgin coconut oil (VCO), Eco Enzyme, kompos cair dan padat, nanas kering, hingga kebun pekarangan keluarga. Semua bahan-bahan tersebut dapat diperoleh di sekitar kita, bahkan sekaligus bisa menerapkan zero waste.

 

 

Setiap materi dan praktek yang diberikan selalu menekankan tentang pentingnya riset dan observasi, bahkan dari lingkup yang paling kecil seperti rumah kita. Disetiap pengamatan zona, teknik tersebut selalu diterapkan. Manfaatnya tidak hanya dalam proses bekerja, melainkan juga sebagai bekal dalam kehidupan.

 

 

Melakukan observasi penerapan permakultur di TPEN (27 Mei 2021) (Foto: Utama Wira)

 

 

Ketika membahas zona 2, teknik riset dan observasi digunakan untuk melihat potensi, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi komunitas (desa) dalam menerapkan permakultur. Lokasi yang dipilih yaitu Taman Petanu Eco-Neighborhood (TPEN) di Sukawati, Gianyar.

 

 

Revitalisasi kebun dan sawah IDEP (28 Mei 2021) (Foto: Utama Wira)

 

 

Setelah peserta mengetahui langkah-langkah dan praktik observasi, di hari selanjutnya peserta diberikan materi tentang langkah-langkah perancangan. Praktiknya diadakan di sawah IDEP sebagai zona 3 (produksi). Aktivitas ini meliputi penyusunan desain kebun, implementasinya, serta langkah selanjutnya untuk keberlanjutan zona produksi. Ketiga aspek tersebut dimulai dengan observasi dan assesment terlebih dahulu. Selama sehari penuh peserta mengisi waktunya di sawah IDEP.

 

 

Hutan Adat di daerah Kemenuh (29 Mei 2021) (Foto: Gusti Diah)

 

 

Hari keenam, peserta diajak kembali untuk melakukan observasi di zona 4 yaitu hutan adat masyarakat. Dalam prakteknya, peserta menerapkan transek dan riset data sekunder di  sekitar hutan adat Desa Kemenuh. Beberapa lokasi yang dipilih yaitu: Pura Dalem Agung Kemenuh; Pura Puseh Kemenuh, Pura Prajapati Desa Adat Tengkulak, dan Air Terjun Tegenungan. Keempat lokasi tersebut merupakan area sekitar kantor IDEP yang secara tidak langsung bersinggungan dengan aktivitas para staff.

 

 

Peserta mewawancarai pengelola Omah Apik (29 Mei 2021) (Foto: Gusti Diah)

 

Peserta mewawancarai penanggung jawab kebun di Omah Apik (Foto: Gusti Diah)

 

Proses observasi yang lebih mendalam dengan mengumpulkan data primer juga dilakukan di Omah Apik. Hotel yang terletak di Pejeng, Gianyar ini sedang memulai untuk menerapkan konsep permakultur. Semenjak pandemi Covid-19 melanda, para anggota Omah Apik harus bisa adaptif untuk bertahan hidup. Mereka pun melihat konsep permakultur dapat diterapkan dalam menghadapi masa krisis ini. Lambat laun, hingga saat ini Omah Apik mulai bangkit kembali dengan menerapkan permakultur.

 

 

Susur sungai di Tukad Petanu (30 Mei 2021) (Foto: Ranggawisnu)

 

 

Hari selanjutnya, teknik observasi diterapkan untuk melihat potensi dan masalah yang terjadi di sekitar Tukad Petanu sebagai zona 5 (konservasi). Namun fungsinya bergeser menjadi zona produksi, ketika tambang batu paras mulai beroperasi. Aktivitas ini dilihat tidak memperhitungkan potensi lokal yang ada, seperti legenda Tukad Petanu yang erat kaitannya dengan budaya dan adat lokal maupun flora dan fauna yang hidup di kawasan tersebut. Secara perlahan, daerah lindung ini mulai mengikis seiring bertambahnya minat dan produksi batu paras.

 

 

Ketika menerapkan permakultur, kawasan produksi sebaiknya tidak mengancam areal konservasi. Etika dan prinsip permakultur selalu menawarkan usaha yang berkelanjutan dan berorientasi alam. Maka dari itu, pelatihan hari kedelapan akan berfokus pada perancangan usaha berkelanjutan.

 

 

Presentasi peserta terkait rencana usaha berkelanjutan (31 Mei 2021) (Foto: Gusti Diah)

 


Prinsip usaha berkelanjutan dapat mengimplementasikan Fair Trade (pasar berkeadilan), adil bagi sesama dan lingkungan. Dalam prakteknya, peserta diberikan kesempatan untuk merancang rencana usahanya. Ada berbagai macam usulan, baik berupa produk maupun jasa. Beberapa peserta pun memaparkan rancangan usahanya. 

 

 

Peserta menjadi fasilitator (1 Juni 2021) (Foto: Gusti Diah) 

 

 

Setelah mempelajari dan mempraktekan konsep permakultur dalam pelatihan kali ini, peserta diberikan kesempatan untuk menuangkan pengetahuannya dengan menjadi fasilitator. Untuk menerapkannya, IDEP mengundang warga sekitar dari berbagai macam usia.

 

 

Sebagai fasilitator, peserta mempraktekan pembuatan pupuk cair (Foto: Gusti Diah) 

 

 

Permainan yang menjadi salah satu materi dalam praktek menjadi fasilitator (Foto: Gusti Diah) 

 

 

Peserta PDC diajak untuk mendalami kembali materi-materi yang telah disampaikan selama pelatihan. Pemahaman peserta pun tidak dibatasi, mereka diberikan kesempatan untuk menuangkan pengetahuannya dengan etika dan prinsip permakultur sebagai akarnya. Keleluasaan ini menghasilkan materi yang beragam, sehingga peserta yang hadir pun merasa tertarik dan menerima informasi yang diberikan. (Gd)

 
 
 

Berlangganan Buletin IDEP

Berikan bantuan yang akan merubah hidup. 100% mendanai proyek amal.

 

 

IDEP Foundation | Helping People to Help Themselves

IDEP Foundation | Yayasan IDEP Selaras Alam
Membantu Masyarakat Mandiri
Br. Medahan, Desa Kemenuh, Sukawati
Gianyar - Bali
Telp. +62 361 9082983

 

 
 
 

 

IDEP di Instagram