[email protected]

(+62) 361 9082983

Diri dan Pertanian Berkelanjutan

Sejuk dan asri terasa ketika baru memasuki pekarangan rumah Putu Nugraha. Siapa sangka tanaman-tanaman yang ada di rumahnya sebagian besar adalah tanaman langka yang memiliki manfaatnya tersendiri. Beragamnya tanaman di rumah Nugraha bermula dari kegemaran mengoleksi berbagai jenis tanaman. Hari-hari Nugraha habiskan untuk merawat kebunnya. “Kalo bisa dibilang, 70% kegiatan saya adalah berkebun,” ungkap Nugraha yang juga berprofesi sebagai pelatih yoga.

 

Memasuki pekarangan rumah Nugraha, Gumbrih, Jembrana (24/6/2021)

 

Putu Nugraha di halamannya

 

Selain gemar mengoleksi tanaman, Nugraha juga membudidayakannya. Secara tidak langsung ia pun turut melestarikan tanaman-tanaman langka tersebut. Dari buahan-buahan, bunga, hingga tanaman herbal ada di pekarangan rumahnya. Diantaranya ada Sangitan, Markisa, Kepundung, Jeruk Bali, Nyamplung, Cempaka, dan masih banyak lagi.

 

Awal Mula Merawat Beragam Tanaman

Kegemaran mengoleksi tanaman pertama kali muncul ketika Nugraha mengikuti pelatihan permakultur yang diadakan IDEP pada akhir tahun 2015. Setelah itu, pria yang mengambil jurusan keperawatan saat berkuliah ini mulai menekuni aktivitas berkebun. Perspektif baru ia peroleh dari pelatihan, yang kemudian menjadi bekal dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. “Ada dampak yang signifikan ketika ikut pelatihan di IDEP, pertama kali paham bahwa pertanian itu bukan kejar-kejaran, yang hanya berpacu dengan hasil,” terang Nugraha ketika kami tiba di teras asrinya.

 

 

Bercengkrama di teras Nugraha

 

Setelah pelatihan, Nugraha mulai sering berkunjung ke toko tanaman langganannya di Batuan. Lambat laun minatnya terhadap pertanian semakin terlihat, hingga kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang sama pun hadir. Tepatnya tahun 2018, ia memperoleh informasi pelatihan pertanian dari grup Whatsapp dan sentak membalasnya dengan antusias. Tawaran pun hadir untuknya. Tanpa berpikir panjang, pria asli Desa Gumbrih ini menerima ajakan pelatihan ke India itu. Dari sana pengetahuan secara spiritual dan ekologi mulai terhubungkan. Vedic Gardening merupakan materi yang diajarkan pada pelatihan tersebut. “Mengenai prinsip dasar, saya lihat banyak yang sama antara permakultur dan Vedic Gardening,” katanya dengan yakin.

 

Pertanian Secara Spiritual

Nugraha mengikuti pelatihan Vedic Gardening di Mathura selama 10 hari yang intens. Dalam kurun waktu tersebut, ia memperoleh bentuk dari Vedic Gardening secara filosofis dan praktikal. Seperti membuat Jiwa Ambrita yang merupakan racikan bahan-bahan organik dan kotoran sapi yang menyuburkan tanaman. Praktik ini ternyata memiliki filosofis yang kuat secara spiritual, dimana racikan tersebut berasal dari dewi-dewi sumber kemakmuran.

Terdapat konsep penting dalam pelatihan Vedic Gardening yang semakin menggugah semangat Nugraha untuk menambah tanaman yang beragam. “Mandala Vatika merupakan konsep turunan Vedic Gardening yang paling saya suka,” ungkap Nugraha sambil mengarahkan tangannya ke pola Mandala di temboknya.

 

Mandala Vatika di Tembok Rumah Nugraha

 

Ia pun menambahkan bahwa Mandala adalah simbol sakral, dan Mandala Vatika adalah simbol sakral yang diterapkan pada pertanian. Diperlukan berbagai jenis tanaman sakral untuk menyusunnya. Mandala Vatika menjelaskan tentang kehadiran energi yang berbeda-beda disetiap tanaman.

 

Mandala Vatika dengan berbagai jenis tanaman

 

“Saat membuat Mandala Vatika, pikiran dibuat fokus tanpa dipaksa,” kata Nugraha, sehingga ia pun dengan senang hati mengumpulkan sekaligus membudidayakan tanaman-tanaman langka pengisi Mandala Vatika. Beragamnya tanaman yang dimiliki, terkadang membuat orang-orang dengan sengaja mengunjungi rumah Nugraha untuk mencari jenis tanaman yang sulit ditemui lagi. Beberapa ada yang digunakan sebagai bahan upacara ataupun pengobatan.

 

Memperoleh Keselarasan Saat Berkebun

Semakin banyak yang menanyakan berbagai jenis tanaman kepada Nugraha, hingga suatu saat kawannya menawarkan untuk membeli bibit-bibit yang dibudidayakan. Awalnya hanya iseng semata, namun lambat laun Nugraha mendapat banyak pesanan, dan mulailah ia berjualan berbagai jenis bibit.

 

 

Bibit langka dari hasil budidaya Nugraha

 

Selain memproduksi bibit, Nugraha juga mulai mengajar pertanian dalam konsep spiritual. Ia sempat mengajar di beberapa program, seperti Natural Farming (pertanian untuk masyarakat rural) dan Sri Living Gardening (untuk ibu-ibu di perkotaan).

 

Nugraha menyimpan benih-benihnya untuk ditanam kembali

 

Tempat pembibitan tanaman

 

Tiga aspek telah Nugraha capai dalam upaya penerapan prinsip permakultur dan Vedic Gardening yaitu sosial, lingkungan, dan ekonomi. Pelatihan yang ia peroleh di IDEP dan Mathura semakin memantapkan ia dalam menjalani hidupnya sebagai pribadi. Aktivitas berkebun dan membudidayakan tanaman langka terasa relevan dengan prinsip yang ia pegang, yaitu “bertani adalah kegiatan yang berkelanjutan.”

 

 
 
 

Berlangganan Buletin IDEP

Berikan bantuan yang akan merubah hidup. 100% mendanai proyek amal.

 

 

IDEP Foundation | Helping People to Help Themselves

IDEP Foundation | Yayasan IDEP Selaras Alam
Membantu Masyarakat Mandiri
Br. Medahan, Desa Kemenuh, Sukawati
Gianyar - Bali
Telp. +62 361 9082983

 

 
 
 

 

IDEP di Instagram